Site Overlay

WHO Kritik Rapid Test Bagi Penumpang Transportasi Umum, Apa Alasannya?

–>

Suara. com – Bepergian dengan moda transportasi umum kini tidak sesimpel sebelum ada pandemi Covid-19.

Akibat wabah virus corona itu, bahan penumpang pesawat, kereta antar kota, juga kapal laut diwajibkan melampirkan hasil rapid test nonreaktif Covid-19.

Namun syarat itu dinilai tidak sesuai rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

National Professional Officer WHO Indonesia Dina Kania mengatakan bahwa rapid test tidak valid untuk dijadikan teladan seseorang sehat dari Covid-19.

“WHO tidak merekomendasikan rapid test sebagai sarana untuk melakukan perjalananan karena hasilnya yang tidak reliable. Yang lebih prioritas adalah bagi yang melempem tidak melakukan perjalanan sama sekadar, ” kata Dina dalam webinar Industri Transportasi Publik, Kamis (3/8/2020).

Taat Dina, daripada menunjukan hasil rapid test, memastikan penumpang disiplin adat kesehatan sebenarnya lebih efektif di dalam mencegah penularan virus corona.

Petugas moda transportasi harus bisa memastikan semua calon penumpang taat menggunakan masker dan jaga jarak.

“Ini lebih efektif. rapid testt bisa menyebabkan rasa tenteram palsu sehingga penumpang tersebut justru tidak disiplin menggunakan masker, ” ucapnya.

Pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari Juru bicara Kementrian Perhubungan Adita Irawati. Ia menyampaikan, syarat lampiran hasil rapid test bagi seluruh penumpang sebenarnya berdasarkan surat edaran Gugus Tugas Penanganan Covid-19 nomor 9 tahun 2020.

“Sampai saat ini syarat yang ada masih saya berlakukan termasuk juga harus menunjukan hasil dokumen yang menunjukan nonreaktif hasil rapid test yang benar 14 hari dan hasil PCR tes yang negatif juga sahih selama 14 hari, ” sirih Adita dalam webinar yang sama.

Scroll Up