Site Overlay

Israel Turunkan Batas Umur Penerima Vaksin COVID-19 Dosis Ke-3

Suara. com – Pemerintah Israel menurunkan batas umur penerima vaksin COVID-19 dosis ketiga, dibanding sebelumnya 50 tahun menjadi 40 tahun.

Keputusan diambil demi meningkatkan cakupan vaksinasi COVID-19 dan mempercepat munculnya kekebalan kelompok.

Komite pakar Kementerian Kesehatan Israel menyarankan agar mereka yang berusia 40 tahun ke atas, serta para-para guru dari segala piawai, menjalani vaksinasi lantaran infeksi COVID-19 meningkat tajam pada Israel baru-baru ini, pengucapan laporan tersebut.

Keputusan itu diharapkan mulai berlaku di dalam Jumat setelah disetujui sebab dirjen kementerian, Nachman Ash.

Menyuarakan Juga: Keterangan Satgas: Lebih dari 30, 75 Penduduk Indonesia Sudah Disuntik Vaksin COVID-19 Penuh

Perempuan Hamil Aman Divaksin Covid-19. (Elements Envanto)

Hingga kini, dekat 1, 25 juta orang di Israel telah menerima suntikan vaksin ketiga, dibanding sekitar 1, 9 juta orang berusia 50 tarikh ke atas yang menyambut suntikan kedua lebih dibanding lima bulan sebelumnya.

Penyambut suntikan pertama vaksin COVID-19 di Israel mencapai hampir 5, 88 juta karakter atau 63 persen sebab total populasi.

Sementara tersebut, lebih dari 5, 4 juta orang telah mendapatkan suntikan kedua dan hampir 1, 25 juta karakter sudah mendapatkan suntikan ketiga vaksin.

Sebelumnya diberitakan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengecam negara-negara dengan memberikan dosis ketiga, padahal distribusi vaksin di segenap dunia belum merata.

Para ahli WHO bersikeras tak ada cukup bukti keilmuan bahwa booster diperlukan. WHO juga mengatakan bahwa memberikan dosis ketiga sementara begitu banyak yang masih menunggu untuk diimunisasi adalah tak bermoral.

Baca Juga: Penasehat WHO Sebut Disparitas Vaksinasi di Indonesia Bakal Terus Terjadi

“Kami berencana untuk membagikan jaket pelampung tambahan kepada orang-orang yang sudah memiliki jaket pelampung, sementara kami menelantarkan orang lain tenggelam minus satu jaket pelampung, ” kata direktur darurat WHO Mike Ryan kepada wartawan dari markas besar lembaga PBB di Jenewa.